Update
AiFa. Powered by Blogger.
Tuesday, October 4, 2016

Apa Alasan Google Ubah Foke Menjadi Ahok di "Sungai Bersih Jakarta"


Pekan kemarin, calon gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan memberi komentar kalau bersihnya sungai di Jakarta saat ini adalah buah dari program yang buat mantan Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo pada 2008 lalu.

Tidak semua orang setuju dengan Anies. Beberapa netizen Indonesia dengan sedikit bercanda sambil mengatakan bahwa Google pun tidak sependapat.

Sebagai “bukti”, mereka menyodorkan hasil pencarian “sungai bersih karena Foke (panggilan Fauzi Bowo)” di kolom mesin pencari Google.

Penulisan kata kunci itu pun kemudian langsung disambut oleh Google dengan memberi saran untuk mengganti nama “Foke” menjadi “Ahok” atau Basuki Tjahaja Purnama, Gubernur DKI Jakarta yang sekarang sedang menjabat.

Saran atau suggestion untuk mengganti keyword yang seolah-olah menunjukkan kalau Google mengiginkan atau membantah pernyataan Anies itu secara kontan dijadikan guyonan di jagad maya.

Bahkan Google Engine bisa protes kalau dibilang sungai bersih karena Foke!” guyonanseorang pengguna Twitter bernama @Mentimoen.

Hahaha sebagai simbah (sebutan Google), ia tak berbohong,” kata pemilik akun Twitter dari yang lain bernama @ZuAndreas.

Pencarian kata kunci sungai bersih karena Foke (grafik merah) dan sungai bersih karena Ahok (grafik biru) mengalami peningkatan dalam beberapa hari terakhir, menyusul pernyataan bakal calon Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan.

Tibjauan dari KT pada Google Trends di wilayah Tanah Air Indonesia, pencarian dengan kata kunci berhubungan dengan sungai Jakarta menjadi meningkat pada awal-awal Oktober menyusul pernyataan dari Anies di atas.

Dengan Kata kunci “sungai bersih karena Foke” mencatat jumlah pencarian paling tinggi, di ikuti “sungai bersih karena Ahok”.

Tidak jelas apakah para pencari kata kunci kedua memang berniat menelusuri “Ahok” atau mengikuti anjuran Google yang mengganti kata “Foke” dengan “Ahok”.

Begini Cara Google mendata internet

BagaimanaKah cara search engine Google mencari informasi yang bertebaran di situs web internet? Perusahaan Raksasa ini memulai dengan membangun database besar lewat proses crawling dan indexing.

Crawling yaitu mencari dan mencatat aneka situs web dengan program khusus bernama Googlebot, bisa juga disebut dengan sebutan robot, bot, ataupun spider.

“Googlebot memakai proses algoritmik: system komputer memilih mana situs yang harus ditelusuri (crawling), seberapa banyak, dan sering apa saja laman yang diambil dari sebuah alamat atau situs,” penjelasan Google dalam laman penjelasannya.

Googlebot tersebut berajalan secara otomatis dari komputer powerful yang dimiliki oleh Google. sedang Cara kerjanya hampir sama dengan kegiatan menjelajah website oleh pengguna seperti biasa, yaitu mengunjungi situs, kemudian diikuti satu situs atau Link ke tautan lain. Seperti itu seterusnya jadi semakin molor waktu situs yang didata malah semakin banyak dan sebarannya semakin luas.

Biasanya itu mesin crawling Google membutuhkan waktu beberapa lama sebelum langsung menemukan situs website baru. Pemilik situs website bisa mengatur untuk memberi batasan kerja Googlebot dalam penelusuran sebuah situs, kita beri contoh dengan menolak kunjungan Googlebot ataupun memberikan perintah khusus soal pemrosesan informasi di dalamnya itu.

Beberapa Laman website yang dikumpulkan itu oleh komputer tadi lalu diatur melalui proses indexing. Tujuanya hampir mirip dengan bagian “index” untuk sebuah buku, yaitu mencatat informasi yang berhubungan dengan setiap kata-kata, judul, dan hal-hal lain berikut lokasinya di dalam database index.

Selain itu Google juga mengatur indeks laman website itu berdasarkan jenis konten anda. Hal itu dibutuhkan dikarenakan pengguna yang melakukan pencarian dengan kata kunci “sungai” kemungkinan tidak mencari konten teks yang menggunakan kata “sungai” doang, mungkin juga foto ataupun video dari obyek yang berhubungan..

Dengan seperti itu, ketika pengguna melakukan pencarian di Google, sebenarnya dia tidak menelusuri sendiri seisi dunia maya, namun mencari konten yang sudah terdaftar di database index milik sang raksasa internet.

Tahapan berikutnya setelah crawling dan indexing adalah menyajikan hasil search pada pengguna. Database Google berukuran luar biasa besar. Jumlah situs web yang terindeks mencapai 60 triliun dengan besar ukuran file mencapai 100 juta gigabyte.

Bagaimana Google menelusuri basis data sebesar itu ketika pengguna memasukkan keyword di kolom search? Kalau sekedar menyajikan laman-laman yang mengandung kata kunci terkait, tentu hasilnya akan kacau balau dan bisa membuat bingung. Untuk mencegah hal tersebut, Google punya mekanisme penyajian hasil search yang dinilai paling relevan.
Caranya adalah dengan mengumpulkan semua laman yang berkaitan dengan kata kunci, lalu menyusun urutannya di laman hasil search berdasarkan lebih dari 200 kriteria, seperti tingkat kebaruan, kualitas situs, jumlah tautan dari situs lain yang terhubung, serta kesesuaian dengan konteks permintaan pengguna. Situs-situs yang dinilai sebagai laman spam atau berbahaya ikut disaring.
Dengan begini, diharapkan hasil search yang tersaji di urutan-urutan awal bakal sesuai dengan kebutuhan pengguna. Semua proses penelusuran database dan pemilahan informasi di atas terjadi dengan sangat cepat. Hanya dibutuhkan waktu 1/8 detik dari penekanan tombol “enter” hingga penyajian hasil search.
  • Blogger Comments
  • Facebook Comments

0 comments:

Post a Comment

Item Reviewed: Apa Alasan Google Ubah Foke Menjadi Ahok di "Sungai Bersih Jakarta" Rating: 5 Reviewed By: Imam Arifin